Beberapa hari yang lalu, sms masuk ke hp suami yang memberitakan meninggalnya seorang teman kami, Ahmad Fauzi Albunsa. Spontan kami berusaha menghubungi pengirim yang nomornya belum dikenali untuk mengetahui lebih dalam kebenaran berita tersebut. Maklum, fauzi dulu pernah menjabat sekretaris umum saat suami saya menjadi ketua umum di UKM kerohanian Kampus (LDK di masjid kampus). Di samping itu, almarhum pernah menjadi anggota divisi saya (Laporan Utama) saat di koran kampus. Seperti tak percaya, seorang teman yang begitu dekat secepat itu meninggalkan kami. Seakan baru kemarin kami berdiskusi dan bergurau dengannya. Fauzi memang kami kenal sebagai sosok yang cerdas tetapi humoris.
Berdebar saat kami membaca sms yang menyusul masuk dari pengirim yang kemudian kami ketahui ternyata teman kami juga, bahwa sebelum wafat, jam 3 dini hari Fauzi sempat menelpon istrinya. Saat itu almarhum sedang menempuh S2 di jakarta meninggalkan seorang istri di Madura, kota kelahirannya. Setelah itu, lalu ia tidur kembali dan ketika hendak dibangunkan ternyata ia telah kembali ke rahmatullah. Innalillah wa inna ilaihi rooji’uun…
Sungguh, ketika Allah telah berkehendak maka manusia tak mampu mencegah. Bahkan untuk mengambil teman kami yang baik itu, pun tanpa basa-basi. Kita tak pernah tahu, siapa kemudian yang akan menyusulnya. Sebab takdir kedatangan malaikat maut yang akan menjemput kita, hanya Allah yang Maha Mengetahui. Karena kita adalah milik-Nya.
Walau kami merasa almarhum teramat potensial untuk segera mengamalkan ilmunya, namun Allah mungkin lebih sayang padanya.
Do’a kami, semoga kematianmu yang indah, membuahkan khusnul khotimah. Demikian pula kami, semoga kita semua menghadap-Nya kelak juga dalam khusnul khotimah. Dengan memohon pertolongan Allah, kami berharap dan berusaha mengisi hari-hari yang tersisa ini (entah sampai kapan) dengan perbuatan yang disukai-Nya, yang akan menambah bekal untuk hidup lebih indah setelah kematian nanti, amin…
Recent Comments