Hidup Bahagia Mati Masuk Surga

20 02 2008

Siapa yang tak mau hidup bahagia? bisa dipastikan semua manusia normal alias yang tidak memiliki kelainan jiwa menjawab,”tentu saya mau hidup bahagia.” Pertanyaan selanjutnya yang mungkin muncul, “kemana saya harus mencari dan mendapatkan kebahagiaan?”. Jawabnya sebenarnya sederhana. Di saat setiap manusia mau berpikir positif, dan memandang segala hal dengan pikiran positif, insya Allah kebahagiaan itu bisa didapatkan. Di samping itu, ada yang mengatakan, di saat manusia telah memiliki makna dalam hidupnya, maka semakin besar peluangnya untuk mendapatkan kebahagiaan dalam hidupnya.

Seringkali, kita memandang kehidupan ini dengan kacamata yang suram. Setiap menghadapi masalah, baik masalah ekonomi, keluarga, masalah anak-anak, masalah dengan pasangan, maupun masalah-masalah lainnya, seakan-akan ada beban yang demikian besar menghimpit kepala dan dada. Padahal, acapkali kita belum memikirkan atau melihat adanya celah dibalik masalah-masalah tersebut yang sebenarnya bisa diselesaikan. Jika sakit fisik bisa diobati, tentu masalah-masalah kehidupan yang lain bisa ditemukan solusinya.

Manusia yang bijak, senantiasa meyakini bahwa setiap peristiwa yang dihadapi memiliki hikmah yang bisa menjadi pelajaran untuk menjalani hidup lebih lanjut. Saat tertimpa masalah, tidak segera panik, melainkan segera berpikir positif bahwa masalah tersebut bisa diselesaikan. Dengan pikiran dan hati yang tenang seraya memohon pertolongan kepada Allah, masalah-masalah tersebut diurai, diidentifikasi, digali penyebabnya, kemudian ditemukan berbagai alternatif solusi yang bisa dilakukan.

Ketika mengalami musibah, segera beristirja’ (membaca innalillah…..dst), mengembalikan segalanya kepada Allah SWT dengan kesabaran kemudian merenung untuk menemukan ibrah atau pelajaran yang bisa diambil dari musibah tersebut. Melalui berpikir positif bahwa Allah semakin cinta kepada hamba-hambaNya yang bisa melalui segala ujian-Nya dengan sabar, niscaya menjadikan hati lebih lapang.

Di samping itu, seorang manusia yang bijak, tidak ragu untuk bercermin atau berintrospeksi tentang perilaku yang telah dilakukan baik di masa lalu atau ataupun masa sekarang. Adakah pernah menyakiti hati orang lain, tidak menunaikan hak orang lain, selalu berprasangka buruk terhadap orang lain, kurang sabar, atau melakukan kesalahan-kesalahan yang lain, lalu beristighfar dan bertaubat kepada Allah SWT sehingga dosa-dosa dan kemaksiatan yang telah dilakukan diampuni dan tidak mempengaruhi atau menyulitkan langkah kehidupan selanjutnya.

Seorang manusia yang bijak juga tidak berat untuk selalu bersyukur atas segala karunia dan kenikmatan yang diberikan Allah SWT, baik banyak maupun sedikit. Manusia kadangkala hanya merasa bersyukur jika kenikmatan dari Allah itu nilainya banyak, bahkan ada juga yang tidak mau bersyukur. Ketika karunia itu sepertinya sedikit, tidak ada rasa syukur tetapi hanya keluhan, mengapa rizki yang diterima cuma segini…, mengapa orang lain dapat lebih banyak, dan keluhan-keluhan lainnya. Padahal jika setiap nikmat yang didapat disadari, maka sesungguhnya tidak ada nikmat yang sedikit. Seperti kesehatan yang merupakan nikmat luar biasa, seringkali baru disadari ketika tertimpa sakit.

Tentang “Makna hidup”, Frankl seorang penggagas logoterapi –yaitu kajian terapi psikologi yang berupaya membawa manusia untuk menemukan makna hidup– menganggap bahwa makna hidup itu bersifat unik, spesifik, dan personal, sehingga masing-masing orang mempunyai makna hidupnya yang khas dan cara penghayatan yang berbeda antara pribadi yang satu dengan yang lainnya.

Dalam The Doctor and the Soul (1964), Frankl juga menerangkan bahwa Logoterapi dapat membimbing manusia dalam melakukan kegiatan yang secara potensial mengandung nilai-nilai yang memungkinkan seseorang menemukan makna hidup, yakni melalui nilai-nilai kreatif, nilai-nilai penghayatan dan nilai-nilai bersikap.

Pertama, berkarya serta melakukan tugas hidup sebaik-baiknya. Kegiatan ini biasa disebut sebagai creative values (nilai-nilai kreatif). Kedua, berusaha mengalami dan menghayati setiap nilai yang ada dalam kehidupan itu sendiri. Proses mengalami ini biasa disebut sebagai experiental values (nilai-nilai penghayatan). Ketiga, menerima berbagai bentuk penderitaan yang tidak mungkin dielakkan lagi, seperti kedukaan, sakit yang tak tersembuhkan lagi, kematian, setelah segala daya upaya telah dilakukan secara maksimal. Sikap tabah terhadap realitas seperti ini biasa disebut sebagai attitude values (nilai-nilai bersikap).
baca lanjutan tulisan ini besok😉


Actions

Information

2 responses

21 02 2008
intiep

Tak tunggu jawaban selanjutnya ya. Bahagia yang juga bisa membahagiakan orang lain.

26 03 2008
mursi

HIDUP BAHAGIA MATI MASUK SURGA…
Subhanalloh..sepertinya itu harapan semua orang deh. Yang menjadi PR kita kemudian adalah apa yang harus kita lakukan agar bisa mencapainya??? Tidak lain dan tidak bukan dengan memahami makna diri dan hidup kita. Dari mana kita berasal, untuk apa kita hidup di dunia ini, mau kemana kita setelah hidup ini serta hubungan antara ketiganya. Dan saya yakin ketika pemaknaan kita tentang hidup itu benar pasti kita akan sampai pada satu hal “keimanan pada Robb kita “. Logoterapi adalah satu jenis terapi yang dikembangkan dari prinsip pemaknaan hidup itu tadi. Semoga kita bisa mengambil makna yang hakiki dari hidup kita ini. Wallohua’lam…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: