Penyesalan Si Buta

26 02 2008

Ini adalah kisah nyata. Pada jaman dahulu, sekitar abad 6-7 masehi, hidup seorang tua renta lagi buta. Jika dilihat secara fisik, ia nampak sebagai orang tua yang lemah dan tidak berdaya. Pekerjaannya setiap hari adalah duduk di sudut tempat di tengah keramaian kota sambil berbicara tanpa henti bercerita tentang seseorang. Tentu apa yang ia lakukan menarik perhatian setiap orang yang lalu lalang di sekitarnya.

Seseorang yang menjadi obyek pembicaraannya itu dikatakannya sebagai seorang penyair pendusta, penjahat, penyihir, penipu, orang dzalim, serta julukan-julukan buruk yang lain. Dengan berteriak-teriak, ia tidak pernah bosan mengulang-ulang kalimatnya yang penuh umpatan dan caci-maki. Dari kata-katanya, dapat disimpulkan betapa orang tua itu demikian benci dengan orang yang ia bicarakan. Seakan-akan ia sangat mengenal dan sering disakiti oleh orang tersebut.

Setiap hari, seperti tidak ada kata lelah dan bosan ia melakukan pekerjaannya mencaci-maki dan mengumpat orang yang sama. Aktivitas itu seperti sudah menjadi profesi yang mendatangkan imbalan dan kepuasan baginya. Ketika ia merasa telah agak lelah berbicara, kemudian ada seseorang yang menyuapinya makanan dan memberinya minum. Setelah kenyang dan kembali segar, ia melanjutkan kembali aktivitasnya mencaci maki dan mengumpat orang yang sama.

Suatu hari ia tetap melakukan pekerjaannya itu, hingga agak lelah ia pun mendapat suapan makanan dari seseorang. Namun ketika suapan pertama masuk ke dalam mulutnya ia terkejut dan marah. “Hai, siapa kamu?! kamu bukan orang yang biasanya menyuapiku!,” teriaknya marah.

“Memangnya kenapa kek?,” tanya orang yang menyuapinya.

” Cara kamu menyuapiku berbeda dengan yang biasanya menyuapiku! Biasanya, sebelum ia menyuapkan makanan itu ke mulutku, ia telah melunakkan dulu makanan itu sehingga aku mudah menelannya. Ia pun menyuapiku dengan lembut. Ke mana orang yang biasa menyuapiku?,” tanya orang tua itu kecewa.

Seketika menangislah orang yang baru menyuapinya itu karena mengingat sahabatnya. “Ketahuilah kek, orang yang biasanya menyuapi Kakek adalah sahabat saya. Namun kini dia telah meninggal dunia sehingga saya menggantikannya menyuapi kakek. Apakah kakek tahu siapa dia?.”

“Tidak, aku belum mengenalnya,” jawab orang tua yang buta itu, lalu terlihat rona kesedihan di wajahnya.

“Dia adalah Muhammad Rosulullah, orang yang selalu kakek sebut penipu, penyihir dan selalu kakek caci maki setiap hari. Dia yang setiap hari menyuapi kakek karena dia adalah orang yang selalu sayang dan mengasihi orang-orang yang lemah seperti kakek dan sangat mencintai kaumnya. Saya adalah Abu Bakar, sahabatnya, yang ingin melanjutkan kebaikannya. Sungguh saya tidak akan pernah mampu melakukan seperti apa yang ia lakukan karena tidak ada seorang pun yang menandingi kemuliannya. Dia adalah Rosulullah teladan kami….,” Abu Bakar tak kuasa menahan air matanya menyampaikan kemuliaan Rosulullah kepada orang tua itu.

Tersedu kakek tua itu mendengar kabar dan kisah dari Abu Bakar tentang Muhammad Rosulullah, orang yang selama ini ia benci padahal belum dikenalnya. Ia malu dengan yang ia lakukan selama ini. Ia menyesal tidak dapat lagi bertemu dengan Muhammad, orang yang selama ini baik padanya dengan menyuapinya makan. Saat itu kemudian ia menyampaikan keinginannya menerima dakwah Muhammad dan memeluk Islam.

Allahu a’lam… Semoga kelembutan hati Muhammad Saw dapat menjadi cermin bagi kita untuk selalu mau memberi maaf, bersikap dan berbuat baik terhadap orang lain. Amin.


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: