about me

Nama blog ini sebenarnya adalah namaku. Aku seorang ibu dengan satu putri dan satu putra. putriku saat ini berusia tiga tahun. Kalo mau liat fotonya, tuh yang lagi nampang di depan. Saat itu ia masih 3 bulan. Namanya Fayruz Fatihah Humaira’ Muhammad. Wah… panjang ya.
Iya nih, lagi kesengsem sama nama Fayruz. Alhamdulillah adeknya baru lahir Maret 2009 lalu, namanya Fayruz Faiz Al-Haqq Muhammad😉. Muhammadnya nempel juga karena itu nama bapaknya, he..he…
Seperti dalam tulisanku tentang calistung di TK, saat itu aku dapat amanah menjadi kepala play group dan TK. Tapi sejak kelahiran Faiz, aku sudah non aktif (tepatnya April 2009 lalu) dan sempat menikmati menjadi fullday mother selama beberapa bulan. Saat ini kami sekeluarga tinggal di negeri jiran untuk mengamalkan ilmu kami sebagai pensyarah psikologi di sebuah perguruan tinggi. Semoga menjadi ladang amal yang penuh berkah, Insya Allah.Info, saran dan diskusi anda akan saya terima dengan hangat

6 responses

4 03 2008
yoeni

Saya concern sekali dengan nasib anak-anak TK jaman sekarang, terutama pada saat mereka ingin “melamar” ke jenjang pendidikan selanjutnya yaitu SD. Ternyata semakin berkembangnya jaman, semakin menderitalah nasib mereka. Gimana nggak?? Mereka sudah harus “dipercepat” kematangannya, hanya karena tuntutan pada saat masuk SD kelak. Harus bisa baca, bisa berhitung, bisa menulis, bisa hafal ini itu, mudah-mudahan aja dengan bertambahnya jaman mereka gak akan disuruh bikin paper juga seperti anak S2. Rasanya mereka diperlakukan sama dengan orang dewasa. Mendaftar di satu sekolah, lalu ditolak karena belum bisa baca, lalu mendaftar ke sekolah yang lain lagi, ditolak juga karena belum bisa menulis, dan melamar lagi ke sekolah lain, ditolak lagi karena belum bisa berhitung. Padahal mungkin anak ini memang sengaja disekolahkan di TK yang menjadi surga anak-anak, karena lebih banyak aktifitas bermain, berkreasi, bereksperimen, dibandingkan kegiatan monoton duduk di bangku sambil berhitung dan membaca. Apa jadinya kalau ternyata justru anak-anak yang sengaja tidak dikarbit kematangan keahlian calistungnya ini menjadi minder karena merasa dia ditolak di berbagai sekolah hanya karena dia tidak “melakukan hal yang kebanyakan orang lain lakukan seperti calistung tadi itu”, padahal dia sangat ahli menerangkan nama-nama dinosaurus dan bisa menggambarkan jenisnya satu persatu, dia ahli mengaduk-aduk adonan kalau ada kegiatan memasak, dia tahu banyak tentang tanaman karena acara di sekolahnya sering berkebun, dia tahu bagaimana air hujan pun bisa diproses menjadi air minum kalau berada di tempat-tempat yang sangat kekurangan air, dia tahu kalau dia butuh sarapan pagi, karena sarapan itu akan diubah menjadi energi kalor yang nantinya akan menambah energi kita pada saat belajar. Wuihhhhh, wahai negaraku, tolong pikirkan nasib generasi mudamu ini. Biarkan calon-calon einstein, calon seniman besar, dan calon ilmuwan ini berkembang apa adanya dan menerima hak mereka selayaknya anak seusianya. Jangan paksa mereka untuk cepat dewasa. Nantinya toh mereka juga akan dewasa dan akan penuh tanggung jawab yang sangat berat. Jadi tolong…….bebaskan mereka dari beban yang berat ini….calistung……sabarlah menunggu aku di SD nanti…
setuju….?

10 03 2008
zahrahm

Setuju sekali bu… Sudah sepantasnya saat ini pemerintah menetapkan kebijakan yang tepat untuk melindungi “kebahagiaan masa emas” anak-anak kita ini. kasihan nasib mereka jika dikorbankan sebagai obyek eksperimen kapitalisasi pendidikan. Namun demikian, pelaksanaannya juga harus dipantau sehingga tidak ada lagi lembaga pendidikan yang masih melakukan pelanggaran hak-hak anak demi “melariskan” lembaga mereka, karena jika itu masih terjadi, maka tidak ada gunanya kebijakan atau undang-undang itu dibuat.
Salam ta’dzim
zahrah m

2 06 2008
Sismanto

HHmmm….
Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Eh..terbalik ya, antara salam dan HHmmm…
Memang sudah seharusnya tidak hanya bersifat transaksional yang semata-mata memuaskan kebutuhan stakeholders sekolah, melainkan lebih dari itu yang bersifat transformasional atau jika memungkinkan, diarahkan pada tataran yang lebih tinggi levelnya. bukan hanya terjebak pada dogma Undang-Undang atau produk-produk kebijakan, Mohon maaf ya, agak ngeyel. 🙂
Salam ya sama Fairuz …”Ruz….Om bentar lagi pulang”

23 10 2008
heri

kenalan-kenalan🙂

gabung ini yuuk🙂

http://cantigi.wordpress.com/ibsn/

28 11 2008
heri

ini istrinya pak fahrizal?

wah ngeblog juga

salam sama pak rizal ya🙂

6 04 2009
Trizz

Ass.ww.
Betulkah ini blog Zahrah – Izal (Psi-UMM1997)?.Klo bener….salam buat suami ya…gimana kabarnya skg tinggal dimana? Kok lama putus contac.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: